SELAMAT DATANG DI BLOG DESA KLAMPIS BARAT

Friday, February 2, 2018

Ada Makam Tengah Luat di Klampis Barat

Ada Makam Tengah Luat di Klampis Barat

Tradisi lisan atau kerap kali dikenal dengan foklor memang sudah tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia. Pada zaman dahulu sebelum terdapat alat komunikasi, masyarakat menggunakan komunikasi verbal dalam menyebarkan informasi. Hal tersebut berdampak pada tidak seragamnya informasi yang didapatkan. Masyarakat menerima informasi baik berupa cerita atau sejarah secara tidak utuh karena bukti yang tidak ada. Perristiwa ini juga berlaku bagi kisah asal-usul makam atau buju’. Terdapat berbagai versi dalam penceritannya berdasarkan sumber yang berbeda.


Dari beberapa versi tersebut, didapatkan satu versi yang dirasa memiliki data-data yang kuat. Dikisahkan, dahulu ditemukan mayat yang terapung tepat didaerah yang saat ini dijadikan sebagai makam. Mayat tersebut tidak dapat dikenali bentuk wajahnya. Satu-satunya bukti yang menjadi penguat jenis kelaminnya adalah rambutnya yang panjang. Masyarakat mengira bahwa rambut panjang tersebut menunjukkan bahwa dia adalah perempuan. Sejak saat itu diberilah nama buju’ prambuyen. Prambuyen dalam bahasa Madura bermakna perempuan.
Pada suatu ketika, sekitar tahun 2005 terdapat seorang guru berikut murid-muridnya yang melakukan Riyadah. Setelah dilihat ternyata diketahuilah bahwa sebenarnya mayat tersebut laki-laki. Setelah dilihat, sang mayat terdapat keturunan dari suanan Bonang, seorang wali dari Tuban. sebenarnya banyak versi nama yang hadir pada guru dan murid-muridnya. Akan tetapi lebih banyak yang mengatakan bahwa mayat  tersebut bernama Syekh Husain. Akhirnya disepakatilah buju’  tersebut dengan nama buju’ Sayyid Husain.
Penamaan buju’prambuyenpun dihapuskan. Konon katanya terdapat kapal besar yang entah terseret ombak atau angin dan akhirnya terbalik. Salah satu korbannya adalah Syekh Husain yang terdampar tepat di Klampis Barat.
Makam tersebut awalnya berada di darat, namun berdasarkan kesepakatan warga yang menunjukkan bahwa dulu jasadnya ditemukan tepat dipemakaman yang sekarang. Akhirnya dibangunlah buju’ ditengah laut. Buju’ tersebut dapat diziarahi saat air mulai surut, biasanya pada pagi hari. Jika dalam kondisi terpaksa, maka bisa kesana denngan menggunakan perahu. Hingga saat ini pembangunan buju’ masih dibilang belum sempurna. Dalam beberapa tahun kedepan akan diagendakan pembangunan buju’ tersebut dan akan menjadi agenda tiga tahun sekali selamatan disana. (Khr/28/01)

Share this article

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 Klampis Barat - Bangkalan • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top