SELAMAT DATANG DI BLOG DESA KLAMPIS BARAT

Thursday, January 18, 2018

Rokat Tase'

Kebersamaan dalam Sampan
Melihat Lebih Dekat Rokat Tase’


Petik laut atau bagi warga Madura akrab disebut sebagai Rokat Tase’ merupakan salah satu tradisi yang dilakukan hampir seluruh masyarakat pesisir. Tradisi ini sudah melegenda entah siapa awal mula yang menciptakannya. Tradisi ini lebih difokuskan sebagai rasa syukur masyarakat pesisir kepada Tuhan. Memang tradisi rokat tase’ dilakukan dibanyak daerah akan tetapi setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk menggambarkan rasa syukur tersebut. Salah satu desa yang juga turut melestarikannya adalah Klampis Barat.
Mengenal lebih dekat rokat tase’ di Klampis Barat tidak lengkap jika tidak mengetahui sejarah awal diadakannya. Rokat Tase’ sebenarnya dimulai pada tahun 1956. Pada masa itu kepala desanya adalah H. Syahid. Tradisi ini dimasa dulu dilakukan dalam beberapa hari sebelum pelaksanaan. Dimulai dengan lomba dayung. Karena Klampis Barat sarat akan kekentalan budaya, pada masa itu juga terdapat acara tayub. Kondisi laut pada masa itu masih dalam keadaan berpasir, sehingga terdapat hamparan pasir luas yang dapat digunakan untuk pagelaran tayub dan kerapan sapi. Setelah hari ketiga barulah kondisi sekitar sangat ramai dengan penjual. Bukan tanpa makna, hal ini dilakukan warga sebagai salah satu momen yang menggembirakan. Diadakanlah semacam bazar makanan. Warga-warga berkumpul pada sebuah titik untuk menjajahkan makanan mereka dan tak banyak pula yang berbondng-bondong untuk membeli makanan-makanan yang dijajahkan. Pada malam harinya dilanjutkan dengan acara istighosah atau tahlilan. Pada saat ini setelah terkena abrasi, bibir laut banyak berupa batu karang, jadi acara-acara tersebut tidak bisa dilakukan.
Ada yang menarik pada perayaan rokat tase’ dijaman dahulu. Kemenarikan itu ditunjukkan dengan digantungnya kepala sapi. Mengenai alasan pemilihan kepala sapi sendiri tidak diketahui. “Baru mulai saya, itu tahun 2007 tidak saya perbolehkan, cuma kegiatannya saya sesuaikan dengan kondisi sekarang,” ucap Hosnis Zaim. Kepala desa tersebut menjelaskan jika  jaman sekarang sudah modern sehingga tidak perlu lagi dikaitkan dengan hal yang dapat merobohkan aqidah masyarakat.
Prosesi rokat tase’ pada masa sekarang lebih modern dengan dibuatnya miniatur tumpeng. Miniatur tersebut dibuat oleh warga dari gedhek jika dalam istilah jawa. Diameter tumpeng tersebut bisa mencapai dua meter, sedangkan tingginya berkisar antara satu hingga dua meter. Miniatur tersebut nantinya akan dilarungkan ke laut dengan arak-arakan drumb band. Setelah sampai di daerah pelarungan akan nampak kemeriahan prosesi ini. Sampan-sampan nelayan dihias dengan berbagai macam hiasan untuk meramaikan dan mempercantik tampilan. Saat itulah laut sangat nampak indah berpadu dengan tumpah ruah masyarakat.

Dalam satu sampan bisa berisi 12 hingga 15 warga yang kesemuanya memiliki hubungan kekeluargaan. Setelah sampai di tempat, biasnaya sejajar dengan desa sepuluh. Mereka secara serempak akan memakan tumpeng-tumpeng yang dibawa dari rumah. Kebersamaan dalam sampan inilah yang selalu dirindukan. Dalam istilahnya, ini adalah momen terindah dan yang paling dirindukan warga Klampis Barat. Setelah selesai menyantap tumpeng, secara bersama-sama lagi warga kembali ke bibir laut. Momen ini merupakan agenda rutinan yang saat ini diadakan dua tahun sekali, mengingat banyakya anggaran yang dikeluarkan. Jika ingin menyaksikan dapat datang secara langsung pada bulan September atau Oktober. Bagaimana, apakah anda tertarik meyaksikan sendiri kemeriahkan rokat tase’ di Klampis Barat? (Khr)
Share this article

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 Klampis Barat - Bangkalan • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top